Kisah yang (di Paksa) Usai

 Kata kunci: Kehilangan

 

Kisah yang (di Paksa) Usai

 

Hari itu, matahari bersinar dengan indahnya, langit seakan menunjukkan betapa indahnya dunia ini. Tapi tidak dengan hariku, hari itu tepat 4 hari sosok panutanku, sosok yang membimbingku terbaring tak berdaya di rumah sakit. Dia bukan hanya sekedar sosok nenek dihidupku. Dia adalah pahlawan dan orang tua ku. Rasanya harapanku kian menipis melihatnya berjuang, karena jauh di dalam lubuk hatiku, aku tau dia lelah. Dia ingin berhenti, dia ingin beristirahat dengan damai. Tapi sosok manusia di dalam hatiku masih senantiasa berdoa pada Tuhan.

Pagi itu, aku sedang berdoa bersama sepupuku, bermunajat pada Yang Maha Kuasa dengan khusyuk. Dering telepon ku tiba-tiba terdengar, itu panggilan dari tanteku.

“Putri, ke rumah sakit sekarang ya nak” ucapnya.

Detik itu, segala spekulasi terburuk sudah hinggap di fikiranku, aku bergegas pergi ke sana, aku terus berharap aku masih memiliki cukup waktu untuk setidaknya memberitahunya bahwa tak apa dia pergi, karena di sini aku akan selalu berusaha tetap hidup dan mencoba bahagia walau tanpa dirinya lagi.

Setibanya di sana, yang kutemukan adalah orang silih berganti kedekatnya, aku diarahkan menuju kearahnya. Air mataku kian meluruh melihatnya seperti itu. Aku masih ingat dia tersenyum kepadaku sembari mengelus kepalaku. Aku hanya mampu tersenyum sembari menangis, lidahku kelu seakan tak dapat bersuara.

“Biarkan saya membantu membimbing beliau di akhir hayatnya” ucap seorang ustadz di sana saat itu.

Ketika kudengar ucapan itu, aku hanya mampu bersandar di dinding dan menangis sekencang mungkin. Itulah detik terakhir ku bersamanya, itulah akhirnya.

Pemakamannya langsung diadakan sore itu juga, orang-orang silih berganti menguatkanku. Aku bahkan tak memikirkan lagi untuk menguatkan ibu dan tanteku. Karena jauh di lubuk hatiku. Aku hancur. Aku mati.

Hari-hari ku tanpanya setelahnya memburuk, aku harus berjuang mengikuti ujian SBMPTN untuk mencapai impian beliau.

Tak terasa sudah 3 tahun dia pergi, kadang aku berfikir apakah dia melihatku di atas sana? Apakah dia tengah melambai padaku? Di saat terpuruk aku masih selalu berpegang padanya, bahkan Ketika dia sudak tak di sini. Aku kembali sulit menerima kenyataan bahwa kata selamat tinggal benar-benar sudah menjadi akhir dari kami. Dia adalah sosok akhir kisah dari buku masa kecilku. Kini aku berusaha merelakan segala kesakitannya, aku ingin berdiri dengan senyum tulus dan kelak memberitahunya bahwa aku berhasil, ma. 

Komentar